Senin, 14 Juli 2014

I'm sorry

Hi guys, for the first time. let me introduce myself. My name is Aldiano Rizky. But you can call me Aldi. Yes, just Aldi. I'm 16 years old. And gue punya teman yang namanya Lyla. Lyla Amanda. Gue udah temenan sama dia kira-kira sejak gue berumur 2 bulan. Karna gue dan lyla hanya terpaut umur 1 bulan. Gue sayang banget sama dia, layaknya sayangnya kakak dengan adiknya. Yaa begitulah, karna gue adalah anak cowok satu-satunya yang paling cakep dan penuh kasih yang selama ini dimiliki ortu gue. Okey, begitulah about myself. and then lets begin about my story.

Hari ini memang hari yang sangat sangat melelahkan. Hari pertama sekolah di semester 3. Why? Because, gue adalah anggota OSIS dan di pagi buta gini, gue harus teriak-teriak nggak karuan sama anak-anak MOS (Masa Orientasi Siswa). Tentu aja, gue harus terlihat garang tapi tetep kece di depan banyak MUBA (Murid Baru). Tapi guys, segarang-garangnya gue, masih ada Lyla. Sahabat gue yang juga anggota OSIS. Garangnya melebihi ketua OSIS, ketusnya melebihi kapten. Sahabat gue yang satu ini memang tomboi, walaupun memang selalu ketus sama cowok-cowok, tapi yang naksir dia seabrek gara-gara kecantikannya. Hummm, tentu aja gue envy. Cemburu gue, sahabat gue kaya ikan di pasar aja. hufftt...
###
Hari semakin berlalu, hari ketiga MOS, MUBA harus membuat surat benci dan cinta. Giliran gue, paling banyak dapat surat benci dibanding cinta. OMG HELLLOOOOWWW, kurang cakep apa sih gue. Dan Lyla paling banyak dapat surat cinta dibanding benci. He to the looww, envy gue.

Guys loe tau kan, hati gue terasa sakit, apalagi surat cinta itu paling banyak dari cowok. Muka gue langsung cemberut di depan muka Lyla. Tapi guys, si Lyla malah bikin gue jadi tambah dongkol.
"Cemburu kan loe, hayo ngaku" jari telunjuknya ia tempel-tempelkan di ujung hidung gue yang mancung. Huek, narsis gue.
"Hiiee sapa bilang, nda layau" tentu aja gue nyangkal. Ashamed bro.
"okey gue nggak percaya, niih gue bagi coklat" dia menyodorkan 1 batang coklat cadburry di depan mata gue. Ngeces gue. Ihh nda layau, tengsin tau.
"Loe sendiri ada nggak?"
"Tenang, gue punya banyak" Lyla langsung memamerkan deretan coklat yang beraneka macam dan warna. Kabarnya sih, dari adek kelas yang falling in love gitu.

Huft, ngenes banget ya gue. untung dia slalu ada buat gue. Tentram deh gue.

###

Tahun ajaran baru, kelas gue kedatangan murid baru. Cakep and tinggi. Namanya Alex. Dari muka-mukanya sih ada darah belanda gitu. Dengan sekejap, semua mata para gadis menatapnya tanpa berkedip. Bagaikan rejeki di pagi hari. Huaa, pamor gue turun dah tuh. Tapi dari sekian banyak cewek-cewek di kelas gue, cuma satu yang nggak tertarik sama dia. Namanya adalah Lyla. Yupz, sahabat gue tersayang. Lega gue, ternyata Lyla masih seperti dulu. Tomboy.

Tapi sih ya, kalo dipikir-pikir gue ini egois. Gue suka nyari cewek and falling in love for the first sight. Tapi kenapa gue nggak suka kalo ngeliat Lyla deket sama cowok lain. Yaa, gue cuma pingin dia nggak disakitin sama cowok-cowok tengik seperti gue, hehe.

Wajah Lyla terlihat cuek. Dia cuma memandangi bukunya sambil nyoret-nyoret isi lembaran itu dengan pencil hitamnya.
"Oooi, nggak naksir lu" kata gue menggodanya. Sikut gue terus menyenggol-nyenggol lengannya yang berada di samping.
"Nda tuh, cowok kaya' gitu mah banyak di pasar" katanya dengan tampang cuek bebek nggak peduli.
"Loe kira barang apa, bual banget dah lu" kata gue tiga sambil menjewer telinganya yang tak tertutup rambut. Karna Lyla ini nggak doyan banget ngurai-ngurai rambutnya. Katanya sih kaya' kuntilanak.

Sedikit lega rasanya. Bukannya gue nggak suka ngeliat dia jatuh cinta. gue sih cuma nggak suka kalo Lyla diperdaya oleh cinta. Ciah.
###
Jam istirahat dimulai. Hari ini Lyla nggak mau gue ajak ke kantin. Entahlah mengapa. Jadinya ya gue pergi meninggalkannya berdua dengan Alex di dalam kelas.
"Oooi anak baru jangan loe apa-apain ya cewek gue" kata gue sok garang sebelum meninggalkan kelas. jari telunjuk gue yang panjang gue tujukan pada Alex dengan mata yang tajam, seolah-olah gue ini memang cowok yang patut ditakutin. Haha.
"apa-an cewek loe, ngaku-ngaku aja loe, pergi sana gih" sakitnya hati gue, dia nggak mau senyum gue bilangin gitu. Hiks. Malah gue lempar pke kotak pensil lagi. Hiks.
"Oke fine" gue langsung pergi dengan muka manyun.

Dan tinggallah mereka berdua. Krik krik. Sebagai seorang cowok, Alex ingin memulai percakapannya. Mumpung berada tak jauh duduk dari kursi Lyla, imencoba mendekat dan mengajaknya mengobrol.

Sudah sekian lama mereka mengobrol tentang hal ini dan itu. Merejan merasakan hal yang sama. Keasyikan dan lebih terlihat friendly. Mereka jadi akrab  dan semakin akrab.
###
Bel usai istirahat berbunyi. Gue dan teman-teman basket gue kembali ke kelas yang berbeda-beda. Begitu gue masuk kelas. Hati gue bray, My heart is broken. Sakit gue. Baru ditinggal sebentar, Lyla udah akrab sama si Bule nyasar. Gue nggak bisa tinggal diem begini nih guys, pokoknya gue mau gangguin mereka.
"Yah elu Ly, baru ditinggal bentar udah selingkuh sama dia, jealous gue" moga aja mimik muka gue ini akting udah kaya' artis propesional.
"Apa-an sih loe, gue cuma ngobrol doang sama Alex" matanya menajam bray.  "Nggak usah dipikirin ya Lex, orang ini memang rada-rada gesrek" wajahnya tersenyum dengan manis.
Brraaakkk, sangking jengkelnya meja tak berdosa gue gebrak dengan sangat keras. Membuat mata memandang tak mengerti. I don't Care lah
"Eh anak baru, udah dibilangin jangan ganggu cewek gue, kenapa loe godain" pokoknya gue teriak sejadi-jadinya.
"yang goda tuh sapa? Gue kan cuma ngobrol doang" katanya dengan berani.
"udah ah, apa-apaan sih kalian ini, elo lagi Al alay banget dah"
"Kalian kan cuma sahabat, apa salahnya kalo gue godain Lyla, toh kalian nggak ada hubungan darah juga"
"Brengsek loe ya, anak baru belagu amat" emosi terpicu, genggaman tangan gue kepalkan kuat-kuat dan siap menonjok mulutnya yang pembualan.

Selama ini nggak ada yang pernah gue tonjok gara-gara mempertahankan Lyla. Dan sekarang, gue bener-bener pingin nonjok muka dia.
Dada gue kembang kempis. Amarah gue melonjak, tapi Lyla selalu tau, bagaimana cara meredam amarah gue. Dia pegang detakan jantung gue yang berdegup kencang. Dia tarik tangan gue keluar kelas meninggalkan Alex yang masih terlihat santai.
"Lain kali bakal gue tonjok loe" gue teriak sejadi-jadinya. akhirnya gue meninggalkan kelas dan membolos pelajaran Biologi, yang gurunya luar biasa killer nya. Entah bagaimana nasib gue soon.

(to be continue guys, sorry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar